KLASIFIKASI:
Taksonomi
Kingdom : Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Actinopteri
Ordo :Syngnathiformes
Famili :Centriscidae
Genus :Aeoliscus
Spesies :Aeoliscus strigatus
(Günther, 1861)
Sinonim takson :
Amphisile strigata Günther, 1861
Centriscus strigatus (Günther, 1861)
(Cameron, C.; Pollom, R. 2016).
FAKTOR HIDUP
Faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan ikan todak adalah termasuk lingkungan hidupnya, kondisi air, makanan, dan faktor sosial.
BUDIDAYA
Langkah-langkah umum dalam budidaya ikan Todak:
1. Persiapan akuarium
2. Kualitas air
3. Pemberian makan
4. Perawatan akuarium
5. Pemeliharaan kesehatan
6. Pembiakan
BAHAYA DAN KERUSAKAN
Ikan todak memiliki beberapa risiko dan bahaya terkait yakni Serangan Terhadap Manusia, Pengaruh Terhadap Ekosistem, Penangkapan dan Perdagangan Berlebihan, dan Kerugian bagi Industri Perikanan.
HABITAT
Ikan todak menghuni terumbu karang Indo-Pasifik di perairan pesisir. Mereka mengambil postur vertikal, dengan kepala menghadap ke bawah, yang menambah kemampuan mereka untuk bermanuver dengan cepat. Posturnya yang unik dan kemampuan manuvernya yang mengesankan dimungkinkan berkat aktuasi pasangan sirip dada yang cermat (houdek, 2015).
2.2.2 Ikan Kakap Putih
KLASIFIKASI:
Ikan kakap putih diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo: Percomorphi
Famili : Centropomidae
Genus: Lates
Spesies : Lates calcarifer (FAO, 2006 ).
FAKTOR HIDUP
Ikan kakap putih juga memiliki keunggulan lainnya seperti memiliki pertumbuhan yang relatif cepat, mudah dipelihara dan juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Pemeliharaan larva yang optimal menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dalam kegiatan budidaya. Beberapa permasalahan dalam pemeliharaan larva salah satunya adalah tingkat kelangsungan hidup yang rendah. Rendahnya tingkat kelangsungan hidup larva dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva adalah perubahan faktor lingkungan akibat pergantian air. (kevin,2021)
BUDIDAYA
Budidaya ikan kakap putih memiliki potensi keuntungan ekonomi yang tinggi dan dapat memberikan manfaat bagi industri perikanan. Beberapa aspek penting terkait budidaya ikan kakap putih meliputi: Keuntungan Ekonomi, Pengelolaan Kolam, Pemilihan Bibit yang Berkualitas, Pakan yang Baik, dan Pencegahan Penyakit. Secara keseluruhan, budidaya ikan kakap putih dapat memberikan kontribusi positif bagi industri perikanan. Dengan pengelolaan yang baik dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan ikan, petani dapat mencapai keberhasilan dalam usaha budidaya ini.
BAHAYA DAN KERUSAKAN
Budidaya ikan kakap putih memiliki beberapa potensi bahaya dan risiko yang perlu dipertimbangkan yakni pada Kualitas Air yang Buruk, Penyakit, Predasi, Kehilangan Pemasukan, dan Keseimbangan Ekosistem.
Penting bagi para petani ikan kakap putih untuk memahami risiko-risiko ini dan menerapkan praktik pengelolaan yang tepat guna mengurangi dampaknya. Ini termasuk pemantauan rutin terhadap kualitas air, pemberian perlindungan terhadap predator, dan penerapan langkah-langkah pencegahan penyakit yang efektif. Dengan manajemen yang baik, risiko dan kerugian dalam budidaya ikan kakap putih dapat diminimalkan, dan potensi keuntungan dapat dipertahankan.
HABITAT
Habitat dan ekosistem merupakan parameter lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap sumberdaya cumi-cumi, terutama terhadap kelangsungan hidup dan biomasa (reproduksi dan pertumbuhan) sumberdaya ikan tersebut. Indikator-indikator yang termasuk dalam domain habitat dan ekosistem. Sebaran suhu vertikal perairan di daerah penangkapan berkisar antara 12,2p C sampai dengan24,9p C, dengan frekuensi tertinggi antara 12,5p C sampai dengan 22p C. Lapisan termoklin umumnya terdapat pada kedalaman 30 – 150 m dengan perubahan suhu kra-kira 0,2p C tiap meter (Sutono,2020).
2.2.3 Ikan Seriding
KLASIFIKASI:
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopteri
Ordo: Perciformes
Famili: Ambassidae
Genus: Ambassis
Spesies: Ambassis nalua (Abdullah & Ibrahim,2016).
FAKTOR HIDUP
Ikan seriding, atau lebih dikenal sebagai ikan betok, memiliki beberapa faktor hidup yang memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Berikut adalah beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam kehidupan ikan seriding: Kualitas Air, Suhu Air, Pakan dan Nutrisi, Struktur Habitat, Persebaran Oksigen, Keseimbangan Populasi, dan Pencegahan Penyakit, Dengan memahami dan memperhatikan faktor-faktor ini, pemelihara atau budidaya ikan seriding dapat dielola dengan baik untuk memastikan kesehatan dan keberlanjutan populasi ikan tersebut.
BUDIDAYA
Budidaya ikan seriding, atau ikan betok, dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa faktor kunci yang memengaruhi pertumbuhan dan kesehatan ikan. Beberapa langkah penting dalam budidaya ikan seriding yaitu, Pemilihan Lokasi Budidaya, Pembuatan Kolam atau Wadah Budidaya, Pengaturan Kualitas Air, Pemberian Pakan, Manajemen Kesehatan, dan Pengelolaan Populasi, Dengan memperhatikan faktor-faktor ini dan menerapkan praktik pengelolaan yang tepat, budidaya ikan seriding dapat berhasil dan memberikan hasil yang memuaskan bagi petani ikan.
BAHAYA DAN KERUSAKAN
Budidaya ikan seriding, seperti halnya budidaya spesies lainnya, juga memiliki potensi bahaya dan risiko yang perlu diperhatikan oleh para petani. Beberapa di antaranya adalah:
1. Predasi
2. Kehilangan Habitat
3.Ketidakstabilan Cuaca
4. Kehadiran Spesies Invasif
5. Kecelakaan Pencemaran
Penting bagi para petani ikan seriding untuk memahami risiko-risiko ini dan menerapkan praktik pengelolaan yang tepat untuk mengurangi dampaknya. Ini termasuk pemantauan rutin terhadap kualitas air, pemberian perlindungan terhadap predator, dan penerapan langkah-langkah pencegahan penyakit yang efektif. Dengan manajemen yang baik, risiko dan kerugian dalam budidaya ikan seriding dapat diminimalkan, dan potensi keuntungan dapat dipertahankan.
HABITAT
Habitat ikan seriding bervariasi tergantung pada spesiesnya, tetapi secara umum, mereka cenderung mendiami perairan dangkal dekat pantai yang memiliki vegetasi atau struktur yang memungkinkan mereka bersembunyi dan mencari makanan. Mereka juga dapat ditemukan di perairan yang lebih dalam, terutama selama tahap hidup tertentu seperti pemijahan. Meskipun kecil, peran ikan seriding dalam ekosistem perairan sangat penting, karena mereka menjadi makanan bagi berbagai predator seperti ikan besar, burung laut, dan mamalia laut (Dudi dkk.,2016).
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, N., & Ibrahim, R. (2016). Keanekaragaman Morfologi Ikan Seriding Berserat di Zona Estuari Sungai Mekong. Jurnal Ekologi Perairan, 25(3), 102-115.
Abdillah, D. (2016). Pengembangan Wisata Bahari Di Pesisir Pantai Teluk Lampung. Destinasi Kepariwisataan Indonesia, 1(1).
Agussalim, A. & Hartoni. 2014. Potensi KesesuaianMangrove Sebagai Daerah Ekowisata diPesisir Muara Sungai Musi KabupatenBanyuasin. Maspari Jurnal 6(2): 148-156.
Anugra, F., H. Umar, B. Toknok. 2014. TingkatKerusakan Hutan Mangrove Pantai di DesaMalakosa Kecamatan Balinggi KabupatenParigi Moutong. Warta Rimba 2(1): 54-61.
Cameron, C.; Pollom, R. (2016). "Aeoliscus strigatus".The IUCN Red List of Threatened Species
Dudi, R., Tadjuddah, M., dan Ramli, M., 2016. Keragaman mangrove terhadap sumber daya ikan pada ekosistem mangrove Teluk Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan. 1(4): 367-375.
Houdek, S. (2015). Robot Biomimetik yang Mencontoh Ikan Udang, Aeoliscus strigatus.
Ilyasa dkk. (2020). Pengaruh Eksploitasi Sumber Daya Alam Perairan TerhadapKemiskinan Pada Masyarakat Nelayan. Universitas Negeri Jakarta. Jakarta.
Kawaroe, M., Nugraha, A.H., Juraij, & Tasabaramo, I.A. (2016). Seagrass Biodiversity At Three Marine Ecoregions of Indonesia:Sunda Shelf, Sulawesi Sea, and Banda Sea. Biodiversitas Journal of Biological Diversity. 17(2):585-591
KEVIN, K., Muzahar, M., & Wiwin Kusuma Atmaja, P. (2021). PENGARUH PERSENTASE PERGANTIAN AIR YANG BERBEDA TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN KAKAP PUTIH Lates calcarifer (Doctoral dissertation, Universitas Maritim Raja Ali Haji).
Loureiro, R., Gachon, C. M. M., & Rebours, C. (2015).Seaweed cultivation: Potential and challenges of crop domestication at an unprecedented pace. New Phytologist, 206(2), 489–492.
Podungge F, Purwaningsih S, Nurhayati T. 2015. The Characteristic of Black Bakau Fruit as Extractof Antioxidant Source. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 18 (2): 140–149.
Risnawati, Kasim, M., & Haslianti. (2018). Studi Kualitas Air Kaitanya denganPertumbuhan Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) Pada Rakit Jaring Apung DiPerairan Pantai Lakeba Kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara. Jurnal ManajemenSumber Daya Perairan, 4(2), 155–164.
Sarmin, A. N., Chairul, & Mukhtar, E. 2016. Analisis Vegetasi Tumbuhan Pantai Pada Kawasan Wisata Pasir Jambak, Kota Padang. 10(2).
Senoaji, G. & M.F. Hidayat. 2016. PerananEkosistem Mangrove di Pesisir KotaBengkulu Dalam Mitigasi Pemanasan GlobalMelalui Penyimpanan Karbon. JurnalManusia dan Lingkungan 23(3): 327-333.
Supriyadi, I.H, Iswari, M.Y, Suyarso. 2018.Kajian Kondisi Padang Lamun diPerairan Timur Indonesia. JurnalSegara. 14 (3):169-177.
Sutono, Dian., Suharyanto, & Perangin-angin, Robet.2020. Pengaruh Suhu dan Kedalaman TerhadapHasil Tangkapan Yellowfin Tuna di PerairanSamudera Indonesia Selatan Pulau Jawa. JurnalAiraha. 9(2): 181-190
Syukur, A. 2015. Distribusi, KeragamanJenis Lamun (Seagrass) dan StatusKonservasinya di Pulau Lombok.Jurnal Biologi Tropis. 15 (2):171-182.
Tanjaya, Etwin. “Potensi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Tongkol (Auxis Thazard) DiPerairan Kabupaten Maluku Tenggara”. Jurnal Amanisal PSP FPIK Unpatti-Ambon 4No. 1 (2015) :32.
Wahyu Muzammil, Aminatul Zahra, Yulia Oktavia, “Peningkatan Kesadaran Masyarakat terhadap Biota LautDilindungi di Kepulauan Riau Melalui Media Buku Saku dan Video”, Jurnal Panrita Abdi 5, Issue 3, (Juli2021): 356,
Yani YM dan Montratama. 2015. Indonesia sebagai poros maritime dunia: Suatu Tinjauan Geopolitik J. Pertahanan, 5(2), 25-52.
#Ilmukelautanunib #Ilmukelautan #Yarjohan
Komentar
Posting Komentar