PERMASALAHAN INDEKS KUALITAS AIR DI SUNGAI BANJIR KANAL BARAT, SEMARANG

Mata Kuliah          : Analisis Kualitas Air
Dosen Pengampu  : Dr. Yar Johan, S. Pi ., M.Si
Nama                    : Mufti Nazira
NPM                     : E1I023024

PERMASALAHAN INDEKS KUALITAS AIR DI SUNGAI BANJIR KANAL BARAT, SEMARANG

           Sungai merupakan aliran air terbuka yang mengalir dari hulu menuju hilir dan akhirnya bermuara di danau atau laut. Sungai memiliki fungsi vital sebagai jalur drainase alami, sumber air baku, dan pendukung ekosistem serta aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Namun, sungai juga dapat menjad iancaman apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara berkelanjutan. Permasalahan banjir menjadi salah satu bentuk degradasi fungsi sungai yang umum terjadi, terutama di wilayah-wilayah dengan tekanan urbanisasi, degradasi lahan, serta alih fungsi lahan yang berlangsung tanpa pengawasan. Kombinasi antara kondisi fisik wilayah dan pengaruh aktivitas manusia menjadi faktor utama yang memperbesar risiko bencana banjir di sejumlah daerah aliran sungai di Indonesia.

        Pencemaran sungai merupakan salah satu bentuk degradasi lingkungan yang paling signifikan terhadap sistem perairan tawar. Sungai sebagai ekosistem alami memiliki fungsi ekologis penting, antara lain sebagai habitat bagi berbagai spesies akuatik, jalur migrasi biota air, serta penyedia sumber daya airbagi kebutuhan manusia. Namun, peningkatan aktivitas antropogenik seperti pembuangan limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, serta sedimentasi akibat deforestasi telah menyebabkan terjadinya pencemaran yang berdampak langsung pada penurunan kualitas air sungai. Kualitas air sungai di Indonesia saat ini mengalami penurunan akibat berbagai faktor mulai dari aktivitas industri hingga perubahan pola hidup masyarakat. Pencemaran sungai yang sudah marak terjadi di berbagai jenis sungai di Indonesia memberikan dampak buruk dan memerlukan penanganan dari pemerintah dan kerjasama partisipasi masyarakat.

       Sungai Banjir Kanal Barat merupakan salah satu sungai yang termasuk dalam DAS Garang dan sebagai salah satu sungai di Kota Semarang denganPanjang sebesar 9,30 km yang tercatat mengalami banjirdi setiap tahunnya (Arifianto et al., 2025). Sungai Banjir Kanal Barat sebagai saluran utama yang mengalirkan air menuju laut, sungai ini juga merupakan lanjutan dari Sungai Kali Garang. Sungai ini memainkan peran penting bagi Kota Semarang sebagai drainase kota utama yang bertugas mencegah genangan air atau banjir di pemukiman padat serta menyalurkan air limbah rumah tangga. Akibatnya, semua limbah termasuk deterjen dari saluran pembuangan mengalir melalui drainase ke perairan Sungai Banjir Kanal Barat. Masuknya limbah deterjen ini menimbulkan gangguan lingkungan berupa peningkatan beban pencemaran deterjen dan penurunan kualitas air sungai yang selanjutnya mengalir langsung ke pesisir Teluk Semarang. Menurut Suharjono (2010), kemajuan teknologi dan pertumbuhan jumlah penduduk juga telah meningkatkan kebutuhan deterjen sebagai bahan pembersih. Deterjen yang digunakan pada saat ini dominan mengandung bahan aktif surfaktan anionik Linier Alkilbenzene Sulfonat (LAS).

        Fosfat yang berasal dari deterjen merupakan nutrient utama yang dapat memicu pertumbuhan gulma dan alga secara berlebihan di badan air (Yuliani, 2023). Fenomena ini dikenal sebagai eutrofikasi, yang menyebabkan penurunan kualitas air secara drastis. Pertumbuhan gulma dan alga yang masif akan meningkatkan beban organik dan mengurangi kadar oksigen terlarut saat mereka mati dan terurai yang akhirnya menyebabkan kematian organisme air dan kerusakan ekosistem (Yusal et al., 2025). Di Sungai Banjir Kanal Barat limbah rumah tangga yang masuk ke saluran drainase tidak mengalami pengolahan terlebih dahulu, melainkan hanya ditampung sementara dalam bak penampungan sebelum dibuang langsung ke drainase yang mengalir ke Sungai Banjir Kanal Barat (Sari et al., 2017).

Limbah deterjen dari drainase-drainase tersebut yang masuk langsung ke ekosistem Sungai Banjir Kanal Barat akan membebani perairan Teluk Semarang, padahal teluk ini sebelumnya sudah terbebani pencemar deterjen dari sungai-sungai lain di Kota Semarang. Beban pencemaran deterjen akibat Sungai Banjir Kanal Barat mencapai 392 ton/tahun (Sari et al., 2017). Nilai yang tergolong tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Cordova (2008) di Sungai Ciliwung yang hanya 35,664 ton/tahun (konsentrasi deterjen 0,43 mg/L dan debit sungai 2,63 m³/s). Perbedaan tersebut disebabkan oleh profil sungai yang berbeda serta debit Sungai Banjir Kanal Barat yang jauh lebih tinggi dari pada Sungai Ciliwung.

Peningkatan beban pencemaran dari deterjen yang diterima oleh Sungai Banjir Kanal Barat yang kemudian mengalir ke Teluk Semarang dapat menimbulkan dampak negatif yang sangat serius terhadap kedua ekosistem perairan tersebut jika tidak segera dikendalikan secara efektif. Hal ini berpotensi merusak kualitas air, mengganggu kehidupan biota akuatik, dan mengancam keberlanjutan sumber daya alam di wilayah tersebut. Oleh karena itu, salah satu langkah pengendalian yang paling efektif untuk mengurangi beban pencemaran deterjen di Teluk Semarang adalah dengan melakukan pengolahan air limbah domestik secara menyeluruh sebelum dibuang ke dalam sistem saluran drainase. Pendekatan ini tidak hanya mampu menurunkan kadar polutan deterjen yang masuk ke Sungai Banjir Kanal Barat tetapi juga secara signifikan meminimalkan beban pencemaran yang akhirnya diterima oleh Teluk Semarang sehingga mendukung pemulihan dan pelestarian ekosistem secara keseluruhan.


Referensi:

Arifianto, S., Andawayanti, U., dan Lufira, R. D. 2025. Analisis Upaya Pengendalian Banjir Sungai                 Banjir Kanal Barat Kota Semarang. Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air. 5(2): 1296-         1307.

Sari, D. A., Haeruddin, H., dan Rudiyanti, S. 2017. Analisis beban pencemaran deterjen dan indeks                kualitas air di Sungai Banjir Kanal Barat, Semarang dan hubungannya dengan kelimpahan                       fitoplankton. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES). 5(4): 353-362.

Suharjono, M. S. 2010. Pemberdayaan Komunitas Pseudomonas untuk Bioremediasi Ekosistem Air               Sungai Tercemar Limbah Deterjen. Seminar Nasional Biologi. Fakultas MIPA, Universitas                      Brawijaya. Malang.

Yuliani, R. 2023. Dampak limbah deterjen terhadapkualitas air dan ekosistem perairan. International               Journal of Chemical Engineering. 15(2): 134-145.

Yusal, M. S., Hasyim, A., Hastuti, H., Arif, A., dan Pratomo, R. H. S. 2025. Review Eutrofikasi: Risiko            dalam Kesuburan Lingkungan Perairan dan Upaya Penanggulangannya. Jurnal Kesehatan                       Lingkungan Indonesia. 24(1): 124-135.

#Ilmu Kelautan
#YarJohan
#Tugas Pertama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEARIFAN LOKAL KONSERVASI BIOTA LAUT DI INDONESIA DAN STATUSNYA

REVIEW JURNAL