Nama : Mufti Nazira
NPM : E1I023024
Pencemaran sungai merupakan salah satu bentuk degradasi lingkungan yang paling signifikan terhadap sistem perairan tawar. Sungai sebagai ekosistem alami memiliki fungsi ekologis penting, antara lain sebagai habitat bagi berbagai spesies akuatik, jalur migrasi biota air, serta penyedia sumber daya airbagi kebutuhan manusia. Namun, peningkatan aktivitas antropogenik seperti pembuangan limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, serta sedimentasi akibat deforestasi telah menyebabkan terjadinya pencemaran yang berdampak langsung pada penurunan kualitas air sungai. Kualitas air sungai di Indonesia saat ini mengalami penurunan akibat berbagai faktor mulai dari aktivitas industri hingga perubahan pola hidup masyarakat. Pencemaran sungai yang sudah marak terjadi di berbagai jenis sungai di Indonesia memberikan dampak buruk dan memerlukan penanganan dari pemerintah dan kerjasama partisipasi masyarakat.
Fosfat yang berasal dari deterjen merupakan nutrient utama yang dapat memicu pertumbuhan gulma dan alga secara berlebihan di badan air (Yuliani, 2023). Fenomena ini dikenal sebagai eutrofikasi, yang menyebabkan penurunan kualitas air secara drastis. Pertumbuhan gulma dan alga yang masif akan meningkatkan beban organik dan mengurangi kadar oksigen terlarut saat mereka mati dan terurai yang akhirnya menyebabkan kematian organisme air dan kerusakan ekosistem (Yusal et al., 2025). Di Sungai Banjir Kanal Barat limbah rumah tangga yang masuk ke saluran drainase tidak mengalami pengolahan terlebih dahulu, melainkan hanya ditampung sementara dalam bak penampungan sebelum dibuang langsung ke drainase yang mengalir ke Sungai Banjir Kanal Barat (Sari et al., 2017).
Limbah deterjen dari drainase-drainase tersebut yang masuk langsung ke ekosistem Sungai Banjir Kanal Barat akan membebani perairan Teluk Semarang, padahal teluk ini sebelumnya sudah terbebani pencemar deterjen dari sungai-sungai lain di Kota Semarang. Beban pencemaran deterjen akibat Sungai Banjir Kanal Barat mencapai 392 ton/tahun (Sari et al., 2017). Nilai yang tergolong tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Cordova (2008) di Sungai Ciliwung yang hanya 35,664 ton/tahun (konsentrasi deterjen 0,43 mg/L dan debit sungai 2,63 m³/s). Perbedaan tersebut disebabkan oleh profil sungai yang berbeda serta debit Sungai Banjir Kanal Barat yang jauh lebih tinggi dari pada Sungai Ciliwung.
Peningkatan beban pencemaran dari deterjen yang diterima oleh Sungai Banjir Kanal Barat yang kemudian mengalir ke Teluk Semarang dapat menimbulkan dampak negatif yang sangat serius terhadap kedua ekosistem perairan tersebut jika tidak segera dikendalikan secara efektif. Hal ini berpotensi merusak kualitas air, mengganggu kehidupan biota akuatik, dan mengancam keberlanjutan sumber daya alam di wilayah tersebut. Oleh karena itu, salah satu langkah pengendalian yang paling efektif untuk mengurangi beban pencemaran deterjen di Teluk Semarang adalah dengan melakukan pengolahan air limbah domestik secara menyeluruh sebelum dibuang ke dalam sistem saluran drainase. Pendekatan ini tidak hanya mampu menurunkan kadar polutan deterjen yang masuk ke Sungai Banjir Kanal Barat tetapi juga secara signifikan meminimalkan beban pencemaran yang akhirnya diterima oleh Teluk Semarang sehingga mendukung pemulihan dan pelestarian ekosistem secara keseluruhan.
Referensi:
Komentar
Posting Komentar