KEHIDUPAN DI LAUT
Disusun oleh: Mufti Nazira (E1I023024)
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya disebut Ekosistem. Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut. Ekosistem merupakan unit fungsional lingkungan yang dibangun oleh komponen hidup(biotik), dan komponen nonhidup (abiotik) padalingkungan tersebut (Rizal, 2015).
Dua per tiga wilayah Negara kita berupa laut. Di perairan laut kita tersebar beragam kekayaan laut yang berlimpah mulai dari terumbu karang, ikan, hutan mangrove, rumput laut, mineral, energi hingga spesies yang tidak dimiliki oleh Negara lain. Terlebih lagi laut Indonesia berada di posisi yang strategis, di apit oleh dua samudra dan dua Benua yakni Samudra pasifik dan samudra Hindia; dan antara benua Asia dan Australia (Amiek, 2019). Laut mempunyai kegunaan dan manfaat yang sangat besar bagi hidup dan kehidupan masyarakat (Ahmadin, 2017). Laut menghasilkan lebih banyak oksigen daripada Amazon, Lautan mengatur iklim bumi, Laut sebagai sumber protein nomor satu bagi lebih dari satu miliar orang, Serta laut dapat Menciptakan jutaan pekerjaan. Kita sebaiknya menjaga dan memelihara laut dan kehidupan di dalamnya. Dengan adanya Pesta Laut, memberi pengertian pada masyarakat bahwa laut adalah bagian penting bagi kehidupan. Norma yang terbentuk dalam masyarakat adalah keharusan untuk menjaga laut, yaitu memaksa mereka untuk selalu memperhatikan kelangsungan keberadaan laut dan sekaligus mengendalikan mereka untuk tidak merusak kehidupan di dalamnya (Mustikawati, 2020).
Menurut Heppi Iromo (2019: 9) Ekositem laut memiliki tingkat salinitas paling tinggi yaiu >30 %. Kehidupan di dalam air laut sangat beragam, mulai organisme mikroskopik yang tak nampak oleh mata telanjang sampai organisme ukuran makro yang dapat dilihat langsung oleh mata tanpa bantuan alat. Salah satu organisme mikroskopik yang terdapat di perairan ialah plankton. Plankton berperan sebagai produsen dalam ekosistem perairan.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan informasi penulis mengenai kehidupan di laut pada hewan mikroskopik salah satunya Plankton, serta Faktor pembatas atau faktor lingkungan nya.
II. ISI
2.1 Plankton
Plankton merupakan organisme mikroskopis yang melayang-layang dalam air dan mempunyai kemampuan renang yang sangat lemah serta pergerakannya selalu dipengaruhi oleh arus air (Isni, dkk., 2017). Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, Plankton memiliki peranan ekologis sangat penting dalam menunjang kehidupan di perairan, tapi jika pertumbuhannya tidak terkendali akan merugikan meskipun berukuran relatif sangat kecil. karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang menghanyutkannya. Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu. Selain sisa-sisa hewan, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton.
2.1.1 Jenis-jenis Plankton
Plankton dibagi menjadi dua jenis berdasarkan caranya memperoleh makanan, yaitu fitoplankton dan zooplankton,
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang dilaut. Menurut Ricky Gimin (2015: 73) ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200µm (1µm = 0,001mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai. Fitoplankton merupakan organisme autotroph utama dalam kehidupan dilaut. Melalui proses fotosisntesis yang dilakukannya, fitoplankton mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai makanan.
Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik.
2.2 Benthos
Bentos merupakan organisme air yang hidup pada substrat dasar suatu perairan, baik yang bersifat sesil (melekat) maupun vagil (bergerak bebas). Berdasarkan siklus hidupnya bentos dapat di bagi menjadi holobentos, yaitu kelompok bentos yang seluruh siklus hidupnya bersifat bentos. Merobentos, yaitu kelompok bentos yang hanya bersifat bentos pada fase- fase tertentu dari siklus hidupnya. Berdasarkan sifat hidupnya , bentos di bedakan antara lain fitobentos, yaitu organisme bentos yang bersifat tumbuhan. Zoobentos, yaitu organisme bentos yang bersifat hewan (Simarmata, 2014).
Benthos merupakan bermacam jenis hewan yang hidup dan berkembangbiak didasar perairan (sungai, danau, laut, situ) dan lainnya. Organisme golongan ini biasanyahidup di dasar dengan cara menempel pada batu, membenamkan diri dalam lumpur danpasir, bergerak dengan mengikuti arus. Kelimpahan dan keanekaragaman benthos sangatbaik digunakan sebagai bio-indikator kualitas perairan, karena tingkat kepekaan organismeini berbeda-beda terhadap jenis bahan pencemar dan memberikan reaksi yang cepat,kemampuan mobilitas yang rendah sehingga secara langsung terpengaruh oleh substansilingkungan, relatif mudah didapat, diidentifikasi dan dianalisa dibandingkan denganorganisme lain (Pagoray, 2018).
Menurut Putra et.al (2014), Bentos mempunyai peranan penting dalam ekosistem suatu perairan. Salah satunya sebagai komponen dalam rantai makanan yakni sebagai konsumen pertama dan kedua, atau sebagai sumber makanan dari level trofik yang lebih tinggi seperti ikan. Selain itu obentos dapat membantu proses awal dekomposisi material organik di dasar perairan yang dapat mengubah material organik berukuran besar menjadi potongan yang lebih kecil sehingga mikroba lebih mudah untuk menguraikannya.
Menurut Ul Rochmana (2015), Makrozoobentos memegang beberapa peran penting di suatu perairan seperti dalam proses mineralisasi material organik yang memasuki perairan. Dan keberadaan makrozoobentos merupakan komponen biotik pada ekosistem perairan yang berpotensi mengindikasikan kondisi fisik, kimia dan biologi suatu perairan, sehingga digunakan sebagai indikator kualitas air. Status kualitas air adalah tingkat kondisi kualitas air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air yang ditetapkan.
2.2.1 Jenis-Jenis Benthos
Menurut Wibisono (2015) dalam Nugraheni (2011), organisme benthos dapat dibagi menjadi 3 kelompok menurut ukuran tubuhnya. Pertama makrobenthos, organisme ini berukuran antara 0,2-2,0 mm yang hanya bisa tertahan dalam saringan berukuran tersebut. Kedua meiobenthos, organisme ini dapat tertahan pada sringan dengan ukuran 0,04-0,1 mm. Yang terakhir adalah mikrobenthos yaitu organisme benthos paling kecil yang hanya dapat lolos pada sringan berukuran kurang dari 0,04 mm.
2.3 Nekton
Nekton adalah bentos yang secara normal hidup dengan cara berenang bebas. Biota yang akan digunakan sebagai bioindikator untuk melihat kondisi suatu perairansalah satu nya adalah nekton. Faktor yang menjadikan nekton sebagaiindikator untuk mengetahui kualitas perairan adalah sifatnya yangubiquitous, yaitu memiliki sebaran yang luas dan jumlah spesies yanglebih banyak untuk memberikan spektrum respon terhadap tekananlingkungan. Selain itu, nekton memiliki siklus hidup lebih panjangmemungkinkan menjelaskan perubahan kualitas air secara temporal. Selain itu juga, nekton merupakan bioindikator terhadap pencemaranlingkungan, termasuk pencemaran kimia. Hal ini karena nektonmenunjukkan reaksi terhadap adanya pencemaran di perairan dalambatas konsentrasi tertentu, seperti perubahan aktivitas, efek padapertumbuhan yang tidak normal hingga kematian (Hanifah, 2024).
2.3.1 Jenis-jenis Nekton
Nekton diklasifikasikan menjadi tiga filum yaitu chordata, moluska, dan arthropoda:
A. Chordata adalah hewan bertulang punggung belakang. Contoh chordata yang merupakan nekton adalah: Ikan bertulang seperti hiu, lele, belut, salmon, sarden, dan lain sebagainya. Mamalia air seperti paus, lumba-lumba, pesut, dugong, dan anjing laut. Reptil seperti buaya, ular, dan penyu.
B. Moluska adalah hewan bertubuh lunak yang tidak memiliki tulang belakang. Contoh moluska yang merupakan nekton adalah: Gurita, Sotong, Cumi-cumi.
C. Arthropoda adalah kelompok hewan avertebrata berupa serangga dengan kaki bersegmen. Contoh arthropoda yang merupakan nekton adalah: Udang, Lobster, Kepiring.
2.4 Faktor pembatas hidup
Faktor lingkungan seperti suhu,salinitas, pH, kecerahan, dan nutrien juga berpengaruh terhadap kelimpahannya, dengan kata lain kualitas perairan menjadi tolak ukur terhadap pertumbuhan dan kelimpahan mikroorganisme tersebut. Hal ini sependapat dengan Syafriani dan Apriadi (2018) yang mengatakan bahwa kondisi kualitas perairan mempengaruhi kehidupan biota yang ada, termasuk kehidupan produsen primer seperti fitoplankton. Selain faktor lingkungan seperti parameter fisika dan kimia, existensi organisme di suatu perairan juga dapat dijadikan sebagai indikator terhadap pencemaran.
- Pada benthos tidak ada satupun faktor yang berhubungan signifikan atau berpengaruh langsung terhadap indeks keanekaragamannya. Pada nekton yaitu suhu air berpengaruh sebesar 61,9%, derajat hubungan kuat dan bersifat negatif serta pH air berpengaruh sebesar 72,8%, derajat hubungan sangat kuat dan bersifat positif.
III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan mengenai kehidupan di laut dapat disimpulkan bahwa Plankton, Benthos, dan Nekton merupakan organisme laut yang berbeda. Meskipun bentos terdiri dari organisme yang berbeda, ketiganya bersama-sama membentuk ekosistem laut yang saling berinteraksi satu sama lain. Suhu, salinitas, pH, kecerahan, dan nutrien juga berpengaruh terhadap kelimpahan Plankton, sedangkan benthos tidak ada satupun faktor yang berhubungan signifikan, pada nekton yakni suhu dan pH.
DAFTAR PUSTAKA
A. Ahmadin. (2020). “Maritime Traditions and Local Community Knowledge Systems on the Island of Selayar,”.
A. Soemarmi, E. Indarti, A. D. Pujiyono, J. P. Soedarto, and T. S. SH. (2019). “Konsep Negara Kepulauan dalam Upaya Perlindungan Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia,”Masal. Huk., vol. 48, no. 3, pp. 241–248.
Hanifah, N. F. (2024). KEANEKARAGAMAN NEKTON DI PERAIRAN SUNGAI WAY TAHMI, BLAMBANGAN UMPU (Doctoral dissertation, UIN RADEN INTAN LAMPUNG).
Heppi, I. (2019). Pengembangan Budi Daya Kepiting Bakau Di Kaltara. Kanisius: Yogyakarta.
Isni Nurruhwati, Zahidah, dkk. (2017).Kelimpahan Plankton di Waduk Cirata Provinsi Jawa Barat. Jurnal Akuatik Indonesia Vol 2(2),pp. 102-108.
Mustikawati, A. (2020). Gambaran Kehidupan Masyarakat Laut dalam Cerita Rakyat Bontang. LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan, 9(1), 67-76.
Nugraheni, A. D. (2011). Hubungan antara distribusi ikan demersal, makrozoobenthos dan subtrat di perairan Selat Malaka. Skripsi.
Pagoray, H., & Udayana, D. (2018). Analisis Kualitas Plankton dan Benthos Tambak Bontang Kuala Kota Bontang Kalimantan Timur. Jurnal Pertanian Terpadu, 6(1), 30-38.
Putra, H., Izmiarti dan Afrizal. (2014). Komunitas makrozoobentos di sungai Batang Ombilin Sumatera Barat. Jurnal Biologi Universitas Andalas. 3(3) : 175-182.
Ricky, G. (2015). “Pemanfaatan Fitplankton sebagai Bioindikator sebagai Jenis Polutandi Perairan Intertidal Kota Kupang.” Jurnal Ilmu Lingkungan. 13(2).
Rizal, S., & Hadi, M. (2015). Inventarisasi Jenis Capung (Odonata) Pada Areal Persawahan Di Desa Pundenarum Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak. Bioma: Berkala Ilmiah Biologi, 17(1), 16-20.
Simarmata, M. (2014). Keanekaragaman makrozoobentos di aliran sumber air panas sipoholon kecamatan Sipoholon kabupaten Tapanuli Utara. Skripsi. Progam studi Sarjana Biologi Jurusan Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatra Utara. 53.
Syafriani, R. & Apriadi, T. (2018). Keanekaragaman Fitoplankton Di Perairan Estuari Sei Terusan, Kota Tanjungpinang. Limnotek Perairan Darat Tropis di Indonesia. 2(24):74-82.
Ul Rochmana, A. (2015). Keanekaragaman makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas perairan di sungai Kaliputih kabupaten Jember dan pemanfaatannya sebagai buku nonteks. Skripsi : Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan pendidikan Mipa Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Jember.
#Ilmukelautanunib #Ilmukelautan #Yarjohan
Komentar
Posting Komentar