12 PRINSIP PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN TERPADU

 

Nama: Mufti Nazira

NPM: E1I023024

Kelas: B

12 PRINSIP PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN TERPADU

Analisis Potensi Ekonomi Wilayah Pesisir Berbasis Konsep Blue Economy Untuk Menuju SDGs Desa (Studi Kasus Kecamatan Semau Kabupaten Kupang)

Berdasarkan studi kasus Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, terdapat penerapan prinsip-prinsip pengelolaan wilayah pesisir terpadu yang terintegrasi dalam konsep Blue Economy seperti prinsip keterpaduan sektoral, prinsip berkelanjutan, prinsip partisipasi masyarakat, prinsip pemanfaatan sumber daya secara optimal dan prinsip zonasi dan tata ruang.

Prinsip keterpaduan sektoral yang mengintegrasikan perikanan, budidaya rumput laut, pariwisata bahari, dan pengolahan hasil laut dalam satu siklus ekonomi berkelanjutan. Prinsip berkelanjutan tercermin dalam visi RTRW "Terwujudnya Kecamatan Semau sebagai pusat pengembangan ekonomi maritim dan pariwisata yang berbasis potensi lokal dan berkelanjutan" dengan upaya pelestarian melalui kegiatan pembersihan pantai, pengurangan bom ikan, dan perlindungan terumbu karang. Partisipasi masyarakat sangat aktif melalui keterlibatan nelayan, petani rumput laut, pelaku wisata dalam pembangunan lopo, homestay, dan pengembangan ekowisata. Pemanfaatan sumber daya optimal dilakukan melalui diversifikasi dari penangkapan ikan hingga wisata mangrove dan potensi energi laut. Zonasi tata ruang diterapkan sistematis dengan pembagian zona permukiman, ekonomi, infrastruktur, dan lindung dalam RTRW.

Dinamika Sosial-Ekologis dan Tantangan Pembangunan di Kawasan Pesisir Terdegradasi: Kajian Kasus di Teluk Jakarta

Berdasarkan studi kasus ini terdapat penggunaan prinsip pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Prinsip ini terlihat dari pendekatan multidimensional yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam mendorong pembangunan pesisir atau keterpaduan disiplin ilmu. Strategi yang diimplementasikan seperti penguatan kelembagaan lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, pelibatan aktif pemangku kepentingan, sosialisasi, pengelolaan sumber daya alam secara bijak, dan kolaborasi lintas sektor.

Model Kebijakan Pengelolaan Wilayah Pesisir Lampung Berbasis Masyarakat

Berdasarkan studi diwilayah pesisir lampung ini terdapat prinsip pengelolaan wilayah pesisir terpadu meskipun implementasinya belum optimal. Prinsip ini tercermin dalam upaya untuk mengintegrasikan berbagai aspek pengelolaan wilayah pesisir seperti merumuskan model kebijakan pengelolaan wilayah pesisir Lampung yang berbasis masyarakat. Studi ini menyoroti pentingnya sinergitas dan keterpaduan antar pemangku kepentingan (masyarakat, pemerintah, dan swasta) dalam pengelolaan wilayah pesisir atau keterpaduan partisipasi pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk masyarakat lokal sebagai mitra setara dalam pengambilan keputusan, serta perlunya kebijakan lintas sektor yang mencakup perencanaan, pengelolaan, pengawasan, dan pengendalian secara berkelanjutan. Selain itu, model pengelolaan yang diusulkan menekankan pendekatan komprehensif yang memadukan dinamika sistem alam (ekosistem) dan sistem manusia (masyarakat), serta prinsip aspiratif yang melibatkan masyarakat pesisir sebagai subjek dan objek perencanaan.

Strategi Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Di Wilayah Pesisir

Dalam jurnal ini menggunakan prinsip pengelolaan sumber daya alam pesisir dan laut. Prinsip ini merupakan dasar dari pengelolaan wilayah pesisir terpadu yang secara langsung berhubungan dengan bagaimana sumber daya alam yang melimpah di wilayah pesisir dan laut dikelola. Jurnal ini menggarisbawahi bahwa pengelolaan ini harus dilakukan dengan tujuan utama konservasi untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Artinya, sumber daya alam pesisir dan laut termasuk terumbu karang harus dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan saat ini tetapi juga menjamin ketersediaannya untuk generasi mendatang.

Permodelan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Secara Terpadu Yang Berbasis Masyarakat (Studi Kasus Pulau Raas Kabupaten Sumenep Madura)

Pada studi kasus ini menggunakan prinsip keterpaduan wilayah/ekologis dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir di Pulau Raas Madura yang didasarkan pada pemahaman bahwa wilayah pesisir adalah area transisi yang secara spasial dan ekologis menghubungkan daratan (lahan atas) dengan laut lepas. Keterkaitan ini berarti bahwa dampak lingkungan di kawasan pesisir dan laut seringkali berasal dari aktivitas pembangunan di daratan, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, industri, dan pemukiman, serta kegiatan di laut lepas seperti pengeboran minyak dan transportasi laut. Oleh karena itu, penanggulangan masalah seperti pencemaran dari industri dan limbah rumah tangga, sedimentasi akibat erosi dan limbah pertanian tidak dapat hanya dilakukan di kawasan pesisir saja melainkan harus diintegrasikan dengan pengelolaan wilayah daratan, laut, dan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Analisis Yuridis Terhadap Pencegahan Pencemaran Lingkungan Laut
Akibat Sampah Di Wilayah Pesisir Jakarta

Berdasarkan jurnal ini, prinsip pemantauan efektivitas pengawasan terkait pencemaran laut di Jakarta sangat bergantung pada prinsip partisipasi publik yang menekankan hak dan kewajiban masyarakat untuk terlibat dalam setiap tahapan pengelolaan lingkungan hidup mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi kebijakan. Dalam hal ini, masyarakat pesisir dapat berperan sebagai pengawas langsung terhadap aktivitas pembuangan limbah dan sampah ke laut sehingga aparat pemerintah memiliki mitra strategis dalam mendeteksi dini potensi pencemaran yang pada akhirnya meningkatkan efektivitas pengawasan secara keseluruhan.

Konsep Kampung Modular Behavior untuk Meningkatkan Kualitas Permukiman Nelayan, Studi Kasus: Pulau Barrang Lompo Makassar.

Pada studi kasus berikut prinsip fleksibilitas dan adaptabilitas dalam pengelolaan diwujudkan melalui penerapan konsep "Modular Behavior" dalam perancangan permukiman nelayan di Pulau Barrang Lompo Makassar. Konsep ini memungkinkan pembangunan dan modifikasi yang mudah di masa depan serta adaptasi terhadap kebutuhan dan perilaku penghuni yang berubah. Fleksibilitas desain hunian yang menggunakan modul-modul panel standar memungkinkan penggunaan ruang yang sama untuk berbagai keperluan dan perubahan fungsi sesuai kebutuhan. Selain itu, adaptasi terhadap kondisi lingkungan seperti gelombang pasang diimplementasikan melalui desain hunian yang tahan air pada lantai dasar dan sirkulasi udara pada area pondasi serta strategi penanganan bencana seperti pengembangan kawasan konservasi laut dan pembangunan seawall.

Pengelolaan Wilayah Dan Sumber Daya Pesisir Terintegrasi Dalam Implementasi Rencana Tata Ruang Kawasan Industri Oleochemical Maloy Kutai Timur; (Sebuah Telaah Kritis).

Berdasarkan jurnal berikut, prinsip keterpaduan kebijakan secara vertikal mengacu pada penyelarasan dan integrasi kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dari berbagai tingkatan pemerintahan mulai dari tingkat pusat hingga daerah serta memastikan bahwa kebijakan yang lebih rendah selaras dengan kebijakan yang lebih tinggi. Dalam jurnal ini, berarti bahwa Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Industri Oleochemical (KIO) Maloy di Kutai Timur seharusnya disinergikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalimantan Timur dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) serta mempertimbangkan regulasi nasional  untuk memastikan bahwa pengembangan KIO Maloy tidak bertentangan dengan kerangka hukum dan perencanaan terutama dalam hal perlindungan ekosistem pesisir seperti hutan mangrove.

Strategi Inovatif Pengelolaan Sumber Daya
Perikanan Laut: Peningkatan Kesejahteraan
Nelayan Melalui Studi Kasus Di Perairan Desa Siofabanua, Nias Utara.

Studi kasus ini menggunakan prinsip pendekatan holistik dan menyeluruh dalam pengelolaan sumber daya perikanan laut di Desa Siofabanua, Nias Utara, hal ini dijelaskan melalui analisis aspek ekosistem laut, dinamika sosial ekonomi nelayan dan kebijakan pengelolaan perikanan yang secara signifikan meningkatkan pendapatan nelayan, akses terhadap pendidikan dan kesehatan serta kualitas hidup mereka dengan dukungan pemerintah, keterlibatan masyarakat, dan kapasitas nelayan sebagai faktor penting dalam keberhasilan strategi inovatif.

Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Lontar, Kabupaten Serang, Banten Melalui Peningkatan Kemampuan Teknik Survei Pemetaan Potensi Desa Pesisir

Jurnal ini menggunakan prinsip pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan dan data akurat diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat pesisir Desa Lontar dalam teknik survei dan pemetaan potensi desa. Hal ini dilakukan dengan pelatihan teori dan praktik survei lapangan, penggunaan teknologi Global Positioning System (GPS), analisis citra satelit, serta pengolahan data spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Peningkatan kemampuan ini memungkinkan masyarakat, termasuk perangkat desa, nelayan, dan komunitas pesisir untuk menghasilkan peta penggunaan lahan yang mencakup ekosistem mangrove, tambak, pemukiman, dan lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Aldi, M., Latif, S., Amalia, A. A., Yusri, A., Amal, C. A., dan Paddiyatu, N. 2024. Modular Behavior Village Concept To Improve The Quality Of Fishermen's Settlements, Case Study: Barrang Lompo Island, Makassar. Idealog: Ide dan Dialog Desain Indonesia9(1): 1-17.

Fudikoa, B. P., Ballo, F. W., dan Kiak, N. T. 2025. Analisis Potensi Ekonomi Wilayah Pesisir Berbasis Konsep Blue Economy Untuk Menuju SDGs Desa (Studi Kasus Kecamatan Semau Kabupaten Kupang). Journal of Innovation Research and Knowledge. 5(2): 1303-1312.

Gea, A. S. A., Zega, A., Telaumbanua, B. V., Zebua, R. D., dan Laoli, D. 2024. Strategi Inovatif Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Laut: Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Melalui Studi Kasus Di Perairan Desa Siofabanua, Nias Utara. Jurnal Perikanan dan Kelautan1(1): 22-29.

Jelibseda, J., dan Umar, G. 2025. Dinamika Sosial-Ekologis dan Tantangan Pembangunan di Kawasan Pesisir Terdegradasi: Kajian Kasus di Teluk Jakarta. Trends in Applied Sciences, Social Science, and Education. 3(1): 1-12.

Prabowo, N. W., Saputra, J., Jasmine, A. S., Khalifa, M. A., Supadminingsih, F. N., Munandar, E., ... dan Syafrie, H. 2025. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Desa Lontar, Kabupaten Serang, Banten Melalui Peningkatan Kemampuan Teknik Survei Pemetaan Potensi Desa Pesisir. Journal of Maritime Empowerment7(2).

Shafira, M., dan Anwar, M. 2021. Model kebijakan pengelolaan wilayah pesisir Lampung berbasis masyarakat. Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan Dan Perikanan11(2): 103-117.

Somad, A. 2025. Analisis Yuridis Terhadap Pencegahan Pencemaran Lingkungan Laut Akibat Sampah Di Wilayah Pesisir Jakarta. Jurnal Ilmiah Hukum dan Keadilan12(2).

Triwibowo, A. 2023. Strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang di wilayah pesisir. Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT)1: 61-66.

Waluyo, A. 2014. Permodelan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Secara Terpadu yang Berbasis Masyarakat (Studi Kasus di Pulau Raas Kabupaten Sumenep Madura). Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology7(2): 75-85.

Wardhana, I. 2020. Pengelolaan wilayah dan sumber daya pesisir terintegrasi dalam implementasi rencana tata ruang kawasan industri oleochemical maloy kutai timur;(sebuah telaah kritis). Jurnal Renaissance: 5(01): 599-609.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEARIFAN LOKAL KONSERVASI BIOTA LAUT DI INDONESIA DAN STATUSNYA

ISTILAH ISTILAH CARA MAKAN HEWAN DAN JENIS HEWANNYA